Tembakau Dapat Menyembuhkan HIV Aids ? JogjaZone



JogjaZone - Selama ini, tembakau dianggap tidak bermanfaat bagi kesehatan. Tetapi kini para ilmuwan berhasil menggunakan tembakau yang dimodifikasi secara genetik untuk memproduksi obat diabetes dan kekebalan tubuh. Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal BMC Biotechnology, awal Maret lalu.

Ilmuwan dari beberapa lembaga penelitian Eropa berpartisipasi dalam proyek bertajuk “Pharma-Planta” yang dipimpin Profesor Mario Pezzotti dari Universitas Verona itu. Mereka membuat tembakau transgenik yang memproduksi interleukin-10 (IL-10), yang merupakan cytokine anti-radang yang ampuh. Cytokine adalah protein yang merangsang sel-sel kekebalan tubuh agar aktif.
Menurut Prof. Pezzotti, tanaman transgenik menarik untuk sistem produksi protein kesehatan karena menawarkan kemungkinan produksi pada skala besar dengan biaya rendah. “Sehingga menghindari proses pemurnian yang panjang dibandingkan dengan obat tradisional sintetis,” katanya.
Tidak sekadar sebagai obat anti-radang dan mencegah diabetes melitus tipe 1, tembakau juga bisa menghasilkan protein obat human immunodeficiency virus (HIV) penyebab AIDS, yang disebut griffithsin. HIV adalah virus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia. Bedanya, bukan tembakaunya yang menghasilkan protein, melainkan virus tembakaunya.
”Tanaman tembakau dapat segera memperbaiki citra di mata para ahli kesehatan masyarakat,” kata para ilmuwan. Dengan bantuan tembakau, obat HIV itu dapat diproduksi dalam jumlah besar dan murah. “Ini berita yang sangat penting,” kata Polly Harrison, Direktur Aliansi Pengembangan Obat Mikrobiologi. Menurut dia, sangat sulit membuat sesuatu yang cukup menjanjikan untuk obat, bahkan dalam studi laboratorium sekalipun. “Tapi ini produksi pada tingkat skala ton obat,” tutur Harrison.
Para ilmuwan telah bertahun-tahun mengetahui bahwa obat-obatan yang dikenal sebagai griffithsin melindungi orang dari infeksi HIV karena  menghentikan kolonisasi virus pada lapisan vagina. Yang menjadi persoalan, biaya untuk memproduksinya sangat mahal.
Virus mosaik tembakau (TMV) yang biasanya menginfeksi tembakau pun dijadikan alat untuk memproduksi obat HIV itu. TMV berbentuk batang, dengan lebar 18 nanometer dan panjang 200-300 nanometer. Pada tubuhnya diinjeksikan gen algae merah yang menghasilkan griffithsin. Virus TMV yang telah mengandung DNA algae merah akan menghasilkan griffithsin.
Agar hasilnya besar, generasi TMV penghasil obat itu dicampur dengan air dan disemprotkan pada Nicotiana benthamiana, sepupu tanaman tembakau komersial yang sangat rentan terhadap TMV. Setelah beberapa hari terinfeksi, daun mulai layu. Berarti virus telah menyebar ke seluruh daun. Kemudian para ilmuwan tanaman memanen, mengekstraksi, dan mengambil griffithsin murni. Penelitian itu diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences, akhir Maret lalu.
“Cara paling efektif griffithsin untuk mencegah infeksi HIV adalah dengan menggunakannya dalam bentuk krim vagina sebelum berhubungan seks,” kata Kenneth Palmer, seorang peneliti di Program Penelitian Kanker Owensboro.
Menurut Witarto, di Eropa, molecular farming menjadi proyek besar Uni Eropa. “Salah satu pusat utamanya di Fraunhofer IME tersebut,” katanya. Di sana ada konsorsium besar. Para profesor dari negara-negara Eropa yang terlibat dalam konsorsium ini mengirim mahasiswa S-3-nya untuk mengerjakan penelitian itu. “IL-10 adalah salah satu targetnya, yang diketuai profesor dari Italia itu,” ujarnya.
10 Manfaat Tembakau
Pada umumnya masyarakat hanya mengetahui Nicotiana Tabacum atau yang  dikenal sebagai tembakau sebagai bahan baku utama rokok, dan tentu saja banyak yang menganggap daun ini hanya memiliki dampak negatif, namun ada baiknya jika anda mengetahui 10 manfaat daun ini.


1. Hasilkan Protein Anti Kanker
Tembakau tidak selalu berkonotasi negatif sebagai penyebab kanker, ternyata tanaman tersebut dapat pula menghasilkan protein anti-kanker yang berguna bagi penderita kanker, kata peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), DR Arief Budi Witarto MEng, demikian seperti dikutip Antara.
“Protein dibuat oleh DNA dari tubuh kita, kita masukkan DNA yang dimaksud itu ke tembakau melalui bakteri, begitu masuk, tumbuhan ini akan membuat protein sesuai DNA yang dimasukkan. Kalau tumbuhan itu panen, kita dapat cairannya berupa protein,” katanya.
Selain untuk protein antikanker, GSCF, ujarnya, bisa juga untuk menstimulasi perbanyakan sel tunas (stemcell) yang bisa dikembangkan untuk memulihkan jaringan fungsi tubuh yang sudah rusak.
Mencegah kanker mulut rahim :Tembakau mengandung sumber protein yang dapat menstimulasi antibody terhadap human papilloma virus (HPV), yang menjadi penyebab kanker mulut rahim.

2. Melepaskan Gigitan Lintah
Manfaat tembakau, selain bisa diekstrak dan diambil bagian tertentu seperti nikotin yang digunakan di berbagai macam produk baik makanan  maupun minuman, tembakau juga bisa kita gunakan untuk melepaskan gigitan lintah kalo lagi di dalam hutan, tembakau juga bisa digunakan untuk insektisida karena nikotin yang terkandung merupakan neurotoxin yang sangat ampuh untuk serangga. Serangga aja mati …. pantes aja kalo manusia bisa mati karenanya.

3. Obat Diabetes & Antibodi
Para ilmuwan berhasil menggunakan tembakau yang dimodifikasi secara genetik untuk memproduksi obat diabetes dan kekebalan tubuh. Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal BMC Biotechnology, awal Maret lalu.

4. Anti Radang
Ilmuwan dari beberapa lembaga penelitian Eropa berpartisipasi dalam proyek bertajuk “Pharma-Planta” yang dipimpin Profesor Mario Pezzotti dari Universitas Verona itu. Mereka membuat tembakau transgenik yang memproduksi interleukin-10 (IL-10), yang merupakan cytokine anti-radang yang ampuh. Cytokine adalah protein yang merangsang sel-sel kekebalan tubuh agar aktif.
Kode genetik (DNA) yang mengode IL-10 ditanam dalam tembakau, lalu tembakau akan memproduksi protein tersebut. Mereka mencoba dua versi IL-10 yang berbeda. Satu dari virus, yang lainnya dari tikus. Para peneliti menemukan, tembakau dapat memproduksi dua bentuk IL-10 itu dengan tepat. Produksi cytokine yang aktif cukup tinggi, yang mungkin dapat digunakan lewat proses ekstraksi dan pemurnian.
Langkah selanjutnya, IL-10 hasil tembakau itu diberikan kepada tikus untuk meneliti seberapa efektif ia membangkitkan kekebalan tubuh. Penelitian menggunakan IL-10 hasil tembakau dalam dosis kecil dapat membantu mencegah kencing manis atau diabetes melitus tipe 1. Diabetes melitus tipe 1 atau diabetes anak-anak dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pankreas. Sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita anak-anak maupun orang dewasa.

5. Obat HIV/AIDS
Tembakau juga bisa menghasilkan protein obat human immunodeficiency virus (HIV) penyebab AIDS, yang disebut griffithsin. HIV adalah virus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia. Bedanya, bukan tembakaunya yang menghasilkan protein, melainkan virus tembakaunya.

6. Pemelihara Kesehatan Ternak
Ekstrak tembakau (nikotin 1,68%) mempunyai ptensi untuk membasmi cacing H. contortus. Sebagai akibatnya hasil pengobatan akan memberikan keuntungan bagi para pemelihara ternak, sebab kesehatan ternak tersebut makin baik.

7. Penghilang Embun
Tembakau bisa juga digunakan untuk menghilangkan “embun” pada kaca dalam mobil pada waktu hujan dengan cara menggosokkan tembakau pada kaca tersebut.

8. Obat Luka
Untuk obat luka dipakai ± 25 gram daun segar Nicotiana tabacum, dicuci dan ditumbuk sampai lumat. ditambah minyak tanah ± 25 ml diperas dan disaring. Hasil saringan dioleskan pada luka.

9. Bisnis Tembakau
harga tembakau menjanjikan

10. Sebagai Biofuel
Baru-baru ini, para peneliti dari Laboratorium Bioteknologi Universitas Thomas Jefferson telah mengidentifikasi beberapa teknik untuk meningkatkan kadar minyak nabati dalam daun tanaman tembakau, hal tersebut merupakan langkah awal dalam memanfaatkan tanaman ini untuk keperluan biofuel. Hasil penelitian mereka ini kemudian dipublikasikan di Jurnal Plant Biotechnology.
Menurut Vyacheslav Andrianov, Ph.D., asisten profesor di bidang Biologi Kanker di Lab. Jefferson Medical College of Thomas Jefferson University, tembakau dapat menghasilkan biofuel lebih efisien daripada produk pertanian lainnya. Namun, sebagian besar minyaknya hanya terkandung di dalam biji/ benih tembakau (sekitar 40 persen minyak per berat kering).
Meskipun kandungan minyak nabati biji tembakau telah diuji dan dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel, namun produksi biji tanaman tembakau masih sangat rendah, yakni sekitar 600 kg biji per hektar. Dr Andrianov dan rekan-rekannya kemudian berusaha untuk merekayasa gen penghasil minyak nabati biji tembakau ini agar pembentukan minyak nabati pada tajuk tanaman tembakau seoptimal kadar minyak dari biji tembakau. bisa jadi alternatif energi ngurangin global warming.

“Scavenger” & “Divine” Kretek, Hidup Sehat Dengan Merokok.
Sangat menarik artikel tulisan FS Swantoro yang dimuat di Koran Suara Merdeka hari ini. Terutama jika dikaitkan dengan fenomena yang seringkali terjadi pro dan kontra terkait kebijakan tentang rokok. Bukan berarti Saya hendak mencari “pembelaan” terhadap kebiasaan merokok yang saat ini masih banyak dijalani, namun sekedar hendak mengulas kembali sisi lain tentang dunia rokok. Paling tidak artikel yang menjadi inspirasi tulisan Saya ini bisa dianggap sebagai kehendak menghargai temuan anak-anak bangsa tentang “Divine Kretek”. Dan bukan berlebihan jika suatu saat apa yang diciptakan oleh mereka bisa menjadi sebuah “solusi” kesehatan.
Sejenak mengulang isi artikel yang berjudul “ Meluruhkan Stigma Negatif Rokok” sebelum nantinya kita akan bebas berpendapat namun tetap berimbang serta berpikir terang. Bahwa rokok (kretek) telah diakui sebagai salah satu warisan budaya bangsa, seperti yang tercantum juga dalam karya Mark Hanusz (2000), “ Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes”. Dalam buku ini diulas bahwa rokok kretek yang disebutnya aroma jiwa bangsa Indonesia. Juga menjadi napas hidup bagi banyak orang. Diantaranya petani tembakau, petani cengkih, pemasok pupuk, pabrik rokok, pedagang rokok, pabrik kertas, pabrik lem dan sebagainya. Termasuk pula berperan dalam keuangan negara (pajak/cukai).
Di luar stigma negatif yang disematkan masyarakat terutama aktivis kesehatan yang antirokok, ternyata kini banyak ilmuwan mampu menjinakkan bahaya merokok bagi kesehatan. Pada dasarnya, pemanfaatan bahan alam sangat tergantung pada pengetahuan atas bahan alam itu sendiri. Dan salah seorang ilmuwan anak bangsa telah memberikan sumbangan yang sangat berharga, yaitu “divine” kretek, rokok sehat dan peluruh radikal bebas. Dia adalah Dr Gretha Zahar yang dibantu Prof Sutiman Bambang Sumitro dari Unibraw Malang.
Inti temuannya adalah asap rokok tidak lagi berbahaya bagi kesehatan manusia, lewat kajian ilmiah yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Asap rokok dianalisa dengan instrumen gas “chromatography”. Dengan hasil bahwa senyawa dalam asap rokok tidak semata-mata senyawa radikal bebas, tapi banyak polimer berbentuk kumpulan butiran partikel. Nikotin merupakan salah satu bagian kecil dari butiran partikel dari asap rokok. Jadi ketika asap rokok masuk dalam tubuh, nikotin tidak dapat berbicara sendiri. Padahal komponen paling berbahaya dari asap rokok justru radikal bebasnya. Nah, lewat set peluruh radikal bebas (scavenger) temuan Dr Gretha dan prof Sutiman ini dihasilkan “divine” kretek, yang asapnya dijamin tidak berbahaya karena tidak lagi mengandung radikal bebas, karena radikal bebas antara lain partikel logam mercury (Hg) yang mengendap dalam tubuh dapat ditangkap,dijinakkan, dan diluruhkan.
Ah, lebih baik ke akhirnya saja, yaitu sudah dibuktikan bahwa peluruhan radikal bebas pada asap rokok lewat serangkaian set peluruh radikal bebas (scavenger) yang dilapiskan pada filter atau dicampurkan dalam cengkih, mempunyai efek positif terhadap sistem kesehatan biologis. Sudah dibuktikan bahwa divine kretek dapat menyembuhkan penyakit kanker, kardiovaskuler, autis, stroke,paru-paru, dan menjaga kesehatan tubuh.
Menurut Prof Dr Sarjadi SpPA, guru besar Fakultas Kedokteran Undip, divine kretek dan scavenger merupakan temuan luar biasa, bahkan merupakan salah satu mahakarya ilmu pengetahuan dan tonggak peningkatan kesehatan manusia berdasarkan kearifan lokal. Bahkan oleh ilmuwan Perancis, temuan Dr Gretha sedang dipromosikan untuk Hadiah Nobel.

Meski mungkin akan tetap menimbulkan pendapat pro dan kontra, saya pribadi berharap penemuan ini betul-betul solid. Meski artikel tersebut belum terlalu lengkap mengulas mengenai efek bagi perokok pasifnya, demikian juga tentang nikotin itu sendiri, yakni apakah dengan berhasil dijinakkannya partikel radioaktif di dalamnya, efek “kecanduan” dari nikotin itu bisa pula dihilangkan? Masih perlu diinformasikan pula, penjelasan secara ilmiah, bagaimana prosesnya sehingga divine kretek dapat bermanfaat bagi kesehatan, bahkan mampu menyembuhkan berbagai penyakit di atas. Tapi sepertinya hal ini bisa terjawab pada buku “Divine Kretek: Rokok Sehat” dimana FS Swantoro sendiri menjadi tim penulisnya.

Mengingat begitu sulitnya budaya merokok itu dihentikan, apalagi terkait hajat hidup orang banyak dibaliknya, alangkah baiknya jika “scavenger” serta “divine” kretek itu wajib diterapkan pada setiap produsen rokok. Bisa jadi ini adalah sebuah solusi. Paling tidak, bagi perokok yang saat ini belum mampu menghentikan kebiasaannya bisa berharap pada temuan luar biasa ini. Bukankah ini sebuah harapan baru? Meski tetap merokok, namun kesehatan tetap terjaga, bahkan lebih sehat, apalagi jika bisa sembuh dari penyakit-penyakit di atas?

Ah. Mudah-mudahan ini nyata, jangan skeptis dulu, apalagi penemuan ini melalui proses terpercaya secara ilmu.

Artikel Jogja-Zone Lainnya :

Scroll to top